Cerita Indah

Indah bergegas menuju cermin dan mematut diri. Gaun hijau polos berbalut scraft warna senada membuatnya semakin percaya diri. Diliriknya tas kecil yang tergolek di tempat tidur. “Ya Tuhan, apa rencana-Mu untukku?” bisiknya pelan pada diri sendiri. Sudah bosan Indah menjalani profesinya sebagai tour leader, profesi yang ditekuninya belum dua tahun sepeninggalan suaminya.

“Mbak Indah sekarang mau kemana?” lamunannya dibuyarkan oleh suara Narti, asisten rumahtangganya.

“Aku mau ke Bandung, Bi. Jaga Rio dan Ria ya!”

*

Jalanan masih lenggang begitu Indah melaju di jalan raya dengan Corolla marunnya. Perasaan hampa kian mendera akhir-akhir ini. Dia selalu merasa kesepian di tengah banyak orang. Mungkin hal ini berawal dari kebiasaan dia ketika masih bersama suaminya. Indah selalu mengabaikan kehadiran orang lain, dia terlalu selektif dalam berteman sehingga tak mempunyai teman curhat selain suaminya.

Foto keluarga di dashbor mobilnya adalah teman terbaik yang selalu menemani setiap perjalanan selain alunan lagu favorit dari suara seraknya Mayang sari. Tak terasa, Tanjakan Bohong yang dia lalui beserta iringan truk pengangkut kayu dari Salawu kini sudah mendekati ruas jalan tol. Indah mamacu kecepatan mobilnya karena dia khawatir, Mustar sudah menunggu di kantornya. Mustar adalah atasan Indah, orang yang memiliki biro perjalanan wisata. Indah ketemu dengannya setahun yang lalu, ketika dia jalan-jalan di sebuah pusat pertokoan. Waktu itu Indah sedang mencari tas untuk kondangan.

“Indah ya?” tegur seorang lelaki berkulit sawo matang. Indah hampir lupa kalau dia tidak memperkenalkan diri. Ternyata dia Mustar, seniornya waktu kuliah dulu. Lalu Indah dan Mustar bercerita banyak hingga Indah mengatakan  kalau dirinya  sedang mencari pekerjaan. Gayungpun bersambut karena Mustar sedang mencari tenaga tour leader di perusahaannya. Sebagai tanda pertemanan Mustar menghadiahi Tas kulit coklat muda yang kini tergolek di jok mobilnya.

Sudah sering Indah curhat tentang dia dan keluarganya kepada Mustar. Berawal dari hal kecil seperti ketika dia minta izin tidak masuk karena anaknya sakit. Mustar begitu perhatian. Dia akan bertanya,” Apa Rio sudah dibawa ke dokter?” “bagaimana keadaan Rio saat ini?” dan masih banyak lagi bentuk perhatian termasuk membelikan mainan kesukaan anak-anaknya.

Indah seperti menemukan sosok Radith, suaminya ketika mendapat perhatian bosnya itu. Benih-benih kepercayaan yang membuahkan kenyamanan mulai tumbuh di hati Indah tapi dia tahu kalau Mustar sudah berkeluarga dan bahagia dengan pernikahannya. Tak ada hubungan spesial antara dia dengan Mustar , itu yang Indah rasakan. Kebaikan Mustar membuat rekan sekerjanya menaruh curiga kalau diantara mereka ada sesuatu. Pernah suatu hari dia mendapat teror dari istri bosnya itu, walau sudah berulang kali dia menjelaskan tetapi tetap saja orang-orang tidak yakin dengan ucapannya. Hal inilah yang paling ditakutkan. Indah tak mau menjadi gulma dalam kehidupan orang lain makanya dia sudah bulat untuk keluar dari perusahaan Mustar dan mau menekuni kemahirannya menjahit saja. Dia akan buka order secara online bahkan kalau ada modal, Indah akan membuat butik dan jualan online saja.

“Indah, apa keputusanmu sudah kau pertimbangkan” suara berat Mustar mengawali percakapan, begitu Indah tiba di ruang kerja bosnya.

“Ya” hanya itu yang mampu Indah ucapkan, tatapan mata Mustar seolah menusuk hatinya, perih. Indah tak mampu menahan bulir air mata. Walau dalam hatinya sempat berkata” Mengapa aku mesti menangis?” Dia merogoh tissue dari balik tas mungilnya. Tangan Mustar meraih pundak indah.

“Maafkan aku Indah”

“Untuk apa?” Indah merasakan kerongkongannya yang semakin kering.

“Apa yang semua orang dan istriku tuduhkan padamu itu benar, aku mencintaimu dan berusaha menyayangimu. Tapi aku tak kuasa dengan semuanya, aku tak mungkin berpisah dengan istri dan keluargaku” Tanpa mengemukakan alasannya Mustar berkata panjang lebar. Indah cepat-cepat menurunkan tangan Mustar dari pundaknya. Matanya melotot seolah tak percaya dengan ucapan laki-laki yang ada di hadapannya. Tanpa berbicara sepatah katapun bibirnya tersenyum kecut, entah sedih atau bahagia. Keputusannya sudah bulat untuk keluar dari pekerjaanya. ditinggalkannya laki-laki itu dengan langkah setengah berlari menuju parkiran. Tangannya sesekali mengusap air mata yang mengalir begitu saja. Tembang lawas Mayang Sari kembali menghibur Indah dalam perjalanan pulang.

***

#cerpen

#TrainingcerpenBatch3

Advertisements

BAKSO TUMPAH

Maya menatap suaminya dari ujung tempat tidur sambil tak henti bergumam,  dia sendiri tidak mengerti dengan apa yang diucapkan. Pokoknya segala ucapan yang membuat hati perempuan berusia 35 tahun itu mampu meluapkan emosi kemarahan. Randi suaminya, hanya terdiam lalu mengambil air wudhu dan menggelar sajadah di samping dipan tempatnya berbaring bersama perempuan yang tengah memelototinya itu. Waktu telah menunjukan pukul 12.00 wib dan segera Randi menunaikan shalat dhuhur.

“Buat apa shalat, kalau kamu masih berbohong” ucap Maya disaat Randi memulai ibadahnya.

Randi tetap melanjutkan rakaat demi rakaat shalatnya hingga selesai, dia melipat sajadah dan menyimpannya di rak sebelah lemari exel berwarna biru di pojok kamar ketika lengkingan istrinya kembali memekak di telinga.

“Oh, Pantas saja kamu kelakuannya ga benar,  shalat aja masih kurang satu rakaat,  dimana akal sehat kamu?”

Randi tersenyum kecut begitu mengingat kembali shalat yang baru saja dia lakukan,  benar apa yang diucapkan istrinya. Tapi dia lebih memilih menuju masjid kecil di samping rumahnya untuk mengulang shalat daripada berantem dengan ibu dari buah hati mereka yang sedang diliput amarah begitu.

*

Semua berawal dari bakso,  ya bakso yang kini tergeletak diatas meja makan kayu yang dibawakan Randi dari bakso Gejrot kesukaan istrinya. Siang itu,  Randi berencana membeli obat batuk ketika tiba-tiba ada teman SMP nya yang minta ditraktir beli bakso. Susan nama perempuan itu,  perempuan berkulit putih yang bekerja di sebuah konveksi di kampung sebelah. Dari cerita teman-teman dia memang agak nakal. Pernah dikabarkan dibawa ke Jakarta berhari-hari oleh bos konveksi hanya untuk mengetahui market di Tanah Abang,  tempat bosnya itu melakukan pemasaran hasil jahitannya. Yang menyebarluaskan berita itu adalah nenek Susan, dengan bangganya mengatakan kepada orang-orang sekampung. Terang aja,  orang sekampung tersenyum sinis karena Susan sudah bersuami.

Kini,  dia menemui Randi di warung foto copy dekat jalan raya, dengan manja dia merajuk minta dibelikan bakso. Randi bimbang karena saat itu dia ditunggu Maya istrinya untuk membantunya menyelesaikan beberapa pekerjaan,  rencananya beli obat batuk pun tertunda.

*

“Maya, aku beli bakso dulu ya” sebelum berangkat Randi menyempatkan minta izin dulu sama istrinya. Maya sempat bingung ketika mendapat kabar sms dari suaminya. Hati Maya tiba-tiba berdebar hebat,  ada rasa yang aneh ketika membacanya.

Tanpa pikir panjang,  diambilnya kerudung warna hijau tua,  diserasikan dengan kemeja kotak hijau yang dia kenakan. Maya mematut diri di cermin,  celana jeans belel warna abu-abu dipakainya dengan sandal jepit warna hitam.

Maya mencari-cari tukang ojek yang biasa mangkal di dekat warung foto copy tapi tak dijumpainya. Abang tukang fotocopy yang belakangan diketahui meminjamkan motornya untuk Randi beli bakso kelihatan agak panik. Dia khawatir Maya mengetahui kalau Randi pergi makan bakso dengan Susan. Kekhawatiran yang berakhir dengan kenyataan karena Maya akhirnya tahu juga.

*

“Mas,  kamu dimana? ” setibanya di warung bakso Gejrot Maya telepon Randi.

Dia tidak menjumpai Randi,  hanya ada perempuan berbaju merah bergambar bunga-bunga besar sedang makan bakso dan hampir selesai, terlihat dia mengucurkan air teh dari teko dan mengakhiri makannya.

“Di rumah Bun” jawabnya singkat

“Oh,  saya kira masih disini” dengan kesal Maya meninggalkan warung bakso,  dijawabnya dengan kecut ketika Mbak penjual itu menawarinya bakso.

“Gak Mbak,  aku cuma cari suamiku,  takut kepincut jablay?!”

Kemarahan Maya semakin menjadi begitu pulang ke rumah dia menjumpai bakso di atas meja makan,  bakso yang sama dari Mbak penjual yang tadi dia datangi.

*

“Baksonya dimana Bu? ” bibi asisten rumah tangga tiba-tiba bertanya

“Buat apa? ” jawab Maya kecut

“Tadi,  kata Bapak suruh diambil,  buat saya katanya”

“Dah ditumpahin tuh!”

“Ya,  sayang” ucap asisten

Maya cuma memanyunkan bibirnya dan mendengus kesal.

***

Antara Asa dan Hampa

Waktu kian berlalu dan betapa bahagianya mendapat kabar bahwa sang bidadari kecil beranjak dewasa 
Orangtua mengirim doa, sanak saudara menguntai harapan dan kerabat pun mengukir asa  yang kian melambung di eksosfir. 

Hampa…. 

Tatkala bidadari kecil itu melangkah berubah haluan, sementara orangtua tak berdaya mengejar mimpi meraih bintang

Dia terbang tanpa arah,  menyayat hati setiap orang yang melihatnya

Merintih… Tertawa…. Tersedu bergantian dalam satu episode

Hanya desah nafas berat yang bisa mereka persembahkan atas nirca yang mencoreng nama besar keluarga

Masih jauh perjalanan, masih ada pintu taubat atas semua yang kau lakukan jangan biarkan kau lari dalam kegelapan karena rembulan senantiasa menerangimu
Masih ada mentari pagi yang memberi kehangatan dan embun menetes sejuk di setiap kedipan pekan

Drama kehidupan yang kau jalankan lambat laun akan mengisi ruang memberi aroma tak sedap

Bertaubatlah sebelum ajalmu menjemput semoga Sang Maha Pencipta mendengarkan do’amu 

#puisimuhasabah

Tanjungjaya 24/10/2017

Menghadapi anak yang Apresiatif 

Hari itu,  tepat dengan hari kelahiran putri ketiga kami. Aku membawakan kue bertuliskan “Happy Birthday” sesuai pesanannya. Dia sedang menulis di papan tulis putih ketika aku membuka kamarnya.

“Teteh Acha lagi apa? ”

Senyumnya mengembang, tangan mungilnya membalikkan papan tulis dan menyimpannya di balik tubuh kecil itu.

“Ibu merem dulu ya,  ga boleh lihat” ucapnya

Setelah merem beberapa saat, putriku yang baru berusia 7 tahun itu menuntun ke arah papan tulis kecil berukuran 40 x 60 centimeter.

“Baca bu… ”

Aku mengeja tulisannya yang masih belum sempurna. Sebenarnya dia yang lagi ulang tahun,  tetapi aku yang diberi kejutan.

“ibu.. Hari ini aku ulang tahun,  aku mau dibelikan kue ya,  aku sayang ibu”.

Anakku yang satu ini memang lebih sensitif dan emosional. Kadang sedikit lebay tapi mungkin itu Disebabkan oleh sifatnya yang apresiatif.

Jika aku pulang sekolah, tangan mungilnya akan menggelanjut manja hingga beberapa saat. Pipi, hidung dan dahiku akan diberi kecupan apabila dia sedang merajuk. Kalo kita lagi cape, suka kesal juga,  ke kamar,  ke wc,  ke dapur atau kemanapun kita pergi,  tangan mungilnya memegang pinggang dan tangan.

Nah! Saya punya beberapa tips untuk menghadapi putri yang apresiatif seperti itu.

1. Berusaha menjaga emosi ketika dia sedang merajuk

Kalo ada maunya,  pasti anak-anak akan merajuk,  hati-hati jangan sampai salah bicara. Anak yang apresiatif akan cepat tanggap dengan obrolan kita.  Jika dia menginginkan sesuatu,  jangan sekali-kali dijanjikan karena ingatannya akan menyimpan ucapan kita. Bilang “tidak” secara tegas dan jangan beri alasan yang mengada-ada

2. Balas pelukan jika dia memeluk kita

Kehangatan pelukan orang tua akan memberi kenyamanan, anak akan sensitif jika orangtuanya sedang “galau” maka berusaha tenang dengan menatap matanya. Kadangkala kita merasa jengah dengan gaya anak seperti itu tapi berusaha memahaminya adalah hal yang harus dilakukan oleh orang tua.

3. Jika dia marah,  biarkan dia sendiri hingga marahnya usai.

Jangan biarkan dia menangis atau membenci kita ketika dia sedang marah.

Jika anak kita sudah mau mengajak damai,  biasanya dia akan menjumpai kita dan tatapannya akan meyakinkan kita kalau dia tidak marah lagi.

Kita berusaha memahami dengan memberi masukan yang logis,  jangan berbohong karena anak ini akan pandai membalikkan lagi ucapan kita.

Misal, jika kita tak mau lantai kotor maka jangan sekali-kali memakai sandal atau sepatu di lantai karena ketika kita melarang si apresiatif maka kalimat yang terluncur dari mulutnya adalah: “Ibu juga kemaren pake sendal di lantai… “

Mak jlebbbb kan?  Anak lainnya mungkin tak kan berbicara seperti itu ketika kita melarangnya. Berikan contoh yang baik karena pada dasarnya anak yang apresiatif adalah anak penurut yang mau membantu orang yang ada di sekelilingnya.

Ini cuma beberapa tips,  pembaca bisa setuju bisa tidak, jika ada yang punya pendapat boleh sharing ya.

Makasih…

Tanjungjaya, 11/09/2017

PELUPA

“Bu… Sudah dikirim file yang saya minta kemarin?”

Aku membuka whattsap dari salah satu temanku

Masya Alloh…. Aku benar-benar lupa.

Aku adalah salah satu orang yang pelupa,  sudah berkali-kali temanku itu minta file tapi selalu janjiku yang dia dapatkan. Aku gak berniat PHP-in dia kok… Aku lupa. Maaf….

Ketika di kantor,  aku sibuk dengan urusan tektek bengek kantor,  laporan inilah,  tugas itulah,  disuruh beginilah dan banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor. Aku tak mau membawa pekerjaan kantor ka rumah karena begitu sampai di teras,  anakku yang masih kecil-kecil menunggu untuk diantar sekolah dan ngaji sore,  hingga jam sembilan malam masih berkutat dengan tugas sekolahnya juga peer yang belum terselesaikan.

Jika belajarnya tidak ditunggui,  pasti ada aja alasan untuk tidak belajar.  Jadi aku harus mau menyiapkan waktu bada Asyar hingga jam 9 malam untuk bersama mereka. Jika anak orang lain kita beri ultimatum untuk giat belajar dan menjadi pintar masa anak sendiri dibiarkan tanpa bimbingan ya…

Pelupa itu memang ada baiknya tapi banyak juga keburukannya. Lupa bukan hanya merugikan diri sendiri tetapi bias merugikan orang lain. Lupa naruh barang penting yang sangat kita butuhkan adalah kerugian juga. Lupa kalau orang lain sudah menyakiti kita, lupa kalau mereka pernah jahatin kita itu baik tetapi jika sebaliknya, lupa dengan janji kita sama orang lain, lupa kalo ucapan kita menyakiti orang yang dihadapan, lupa kalo guyonan kita adalah sebilah belati yang menghujam di ulu hati orang lain….

Maaf… pelupa itu bukan keinginan tapi juga bukan kebiasaan yang harus dienyahkan jauh-jauh dari kehidupan kita. Betapa jika seorang ibu yang mengandung dan melahirkan tidak melupakan sakitnya ngidam dan melahirkan maka dia tidak akan pernah mau untuk yang kedua kalinya. Lupa pada tempatnya, lupa yang seharusnya adalah kodrat, asal jangan pura-pura lupa…

Keep spirit and fight

******

Istri Pilihan

“Tuch… Sama bapakmu sana…. ” tiba-tiba seorang ibu mendorong dorong anaknya di keramaian acara.

Semua mata tertuju padanya dan lontaran kasar  ibu tersebut membuat banyak orang tertegun.

“Aku yang cari uang,  aku yang ngurus rumah tangga… Kamu cuma main kerjanya….  Bla… Bla… Bla… ”

Banyak orang yang menunduk, malu sendiri dengan cacian itu. Pada dasarnya semua orang yang berumahtangga punya masalah apalagi yang berhubungan dengan keuangan… Wuihhhh pasti berbuntut dan berlarut-larut.  Kadang masalah sepele juga jadi besar kalo didasari oleh urusan ekonomi ini…

Kejadian itu terjadi pada keramaian tapi beruntung sang suaminya tidak membalas ocehan itu, dia hanya memangku anaknya itu dan mengajaknya menjauh.

Pilih istri itu memang harus cerdas ya… istri itu bukan hanya cantik secara fisik tetapi harus mampu memanajemen emosi, betapa susahnya seorang istri untuk tidak merengek dan mengeluh sementara seluruh pekerjaan rumahnya, dia yang mengerjakan, apalagi jika ditambah dengan aktivitas menambah penghasilan suami. dan berbahagialah para suami yang memiliki istri pilihan yang mampu mengangkat derajat suaminya, menyembunyikan aib keluarganya dan menopang kehidupan serta keberlangsungan keluarganya.****

Medio Agustus 2017

Ganti Baju

Suatu sore ketika baru pulang kerja,  aku menjumpai jagoan kecilku sudah rapi,  pakai baju bersih dan harum.  Aku memujinya

“Anak ibu pinter yaaa, udah ganteng sore ini.. ” dia cuma tersenyum

Begitu malam menjelang tidur,  seperti biasa aku memngingatkan dia untuk gosok gigi,  cuci muka,  cuci kaki dan pipis dulu. 

Celana beigi krem selutut dia buka,  tapi masih ada celana pendek sebelum celana dalamnya dibuka. 

“Wah.. Kayak ayah yaaa pake celana pendek… “gurauku sambil membantu membukanya.  Lagi-lagi dia tanpa komentar,  cuma tersenyum. 

Begitu pagi hari mau berangkat ke sekolah. Jagonku diajak mandi pagi,  aku membantubya membuka kaos strip orange-putih yang dia pakai. Tapi masih ada kaos team sepak bola yang dia kenakan di dalamnya. 

Ups… Berarti baju itu gak dilepas sedari siang

“De… Kalo ganti baju tuh harus mandi dulu yaaaa”

“Aku kan ga ganti baju bu… Kan pake doubel.. ”

Aduhhhhhh ni bocah… Adaaaaa aja alasannya****

Tanjungjaya, 27/09/2017

Menuju Kongres V IKA 

IMG_20170826_064516Alarm berbunyi,  aku membuka mata dan mematikannya. Ups… Segera beranjak ke kamar mandi,  bergegas beres-beres dan membangunkan my hubby.

Begitu dapat kabar ada kongres IKA dari teh Nining, langsung saja chat ke panitia dan kebetulan masih ada kuota. alhamdulillah masih bisa bergabung walau harus menembus dinginnya udara pagi dan merasa menggigil di mobil elp yang mengantar hingga terminal Leuwi Panjang.

Tukang bubur pinggir jalan merupakan sosok yang menyelamatkan perut dari lapar dan dinginnya kota Bandung,  setelah bertanya pada satpam terminal maka kulanjutkan dengan naik bis menuju terminal Kebon Kalapa karena aplikasi gojek yang baru di unggah belum bisa digunakan.

Walau dulu pernah tinggal beberapa tahun di Kota Kembang tetapi suasana sekarang jauh berbeda, kulihat lagi aplikasi gojek dan yupz… Bisa juga dipakai,  ini untuk pertama kalinya aku pakai aplikasi ini dan alhamdulillah bisa sampai di tempat tujuan Hotel El Royale Bandung.

Cekrak-cekrek sebelum acara di mulai adalah hal yang dilakukan apalagi bertemu dengan rekan-rekan seangkatan ataupun adik kelas. Kehebohan mendapat ilmu, wawasan dan sekaligus reuni adalah harapan setiap peserta.

Dan acarapun segera dimulai karena para pejabat satu persatu sudah memasuki ruangan.

#Kongres V IKA UPI Bdg #Reunialumni #ReuniUPI Bdg #ReuniGeo

Bandung,  26 Agustus 2017

Pak Kepsek

Seperti biasa, jam pertama masuk ke kelas di lantai tiga,  setelah melakukan presensi dan absensi kemudian memulai dengan menuturkan tujuan pembelajaran.

Tiba-tiba Anisa,  murid yang duduk dekat jendela berbicara: “Bu… Ada yang ngetuk pintu” sekilas kulihat ke jendela dan Pak kepala terlihat berjalan ke arah pintu kelasku. Aku beranjak menuju pintu tapi tak kujumpai kepala sekolah,  kutengok ke arah tangga juga tak kujumpai orang. Mungkin beliau ngecek kehadiran guru-guru,  pikirku.

Aku kembali melanjutkan pelajaran hingga usai. Setelah istirahat tiba,  saya bertemu dengan kepala sekolah di koridor ruang tamu.

“Pak… Mau kemana, kok udah ganti baju lagi? ” ucapku sambil melihat kemeja biru muda dengan celana abu-abu tua.

“Lho dari tadi saya pake baju ini kok! ” beliau kelihatan terheran-heran dan lebih terkejut lagi saya. Terus,  yang tadi pake kemeja hitam siapa ya? Wajahnya persis pak kepala. Duh,  pak kepalapun cuma bilang: “Berarti ada yang mewakili saya buat kontrol kelas Bu… ”

Halaaaahhhh

#fiksiminiAiTitin

#Mediojuli2016/2017

Partisipasi Lomba Agustus-an

Foto.jpg

Bagian dari Sosialisasi

Perayaan memeriahkan hari kemerdekaan tiap tanggal 17 Agustus dan sesudahnya atau bahkan ada yang sebelum hari-H selalu diramaikan oleh seluruh warga negara Indonesia. Semua orang baik muda maupun tua beramai-ramai menunjukan partisipasinya.

Sebagai warga,  kita mesti berpartisipasi karena moment langka ini merupakan ajang silaturahmi sesama warga. Biasanya dalam keseharian sibuk dengan kegiatan masing-masing dan saat perayaan 17-an berkumpul,  bermain dalam berbagai lomba dan gembira bersama.

Berbagai acara/lomba dengan hadiah-hadiah menarik dan unik dipersiapkan oleh panitia baik tingkat RT/RW maupun lebih tinggi dari itu.  Semua bergabung dalam kegiatan tahunan dengan dana dari swadaya maupun donatur yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum acara berlangsung.

Partisipasi tanpa Atribut dan Status Sosial

Partisipasi pada kegiatan Agustus-an tak perlu menggunakan data berdasarkan Daftar Urutan Kepegawaian (DUK) atau status sosial lainnya di masyarakat. Semua berpartisipasi sebagai warga masyarakat yang merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungannya. Tengok saja yang melakukan perlombaan panjat pinang misalnya, siapa yang kuat maka dialah yang jadi penopang, harus ada paling bawah dan siap diinjak pundaknya oleh siapapun yang naik ke pohon pinang. Tak ada kata”permisi” atau “Maaf” karena sudah menginjak pundaknya, siapapun dia, anak siapa atau pangkatnya apa? Tertawa dalam kekompakan adalah hiburan tersendiri bagi penonton.

Lomba Agustus-an juga mengedepankan kebersamaan dan kekompakan, dengan siapapun anggota kelompoknya maka diantara mereka harus menciptakan goal yang memiliki satu missi yaitu dapat hadiah dan tertawa bersama ketika mengalami hal yang lucu dan mengesankan. Bapak-bapak rela didandani coreng moreng bahkan terkesan di luar kebiasaan, misalnya sepak bola memakai daster, lomba menggendong istrinya, ngambil uang dengan mulut dari dalam terigu dan masih banyak lagi lomba yang mengesampingkan “rasa malu” ditonton oleh orang banyak.

Ketika acara perlombaan atau hiburan berlangsung, anak-anak biasanya paling antusias. Ibu yang masih memiliki anak balita harus rela mendampingi hingga acara usai atau anak sudah kelelahan dengan sajian acara tersebut. Seperti saweran agustusan pada acara hiburan misalnya, seorang ibu harus menanggalkan atribut dan statusnya baik di lingkungan kerja maupun keluarganya hanya karena anak balitanya menginginkan saweran tersebut. Uang yang disawerkan tak seberapa, paling sekitar Rp 2.000 bahkan recehan walau ada juga beberapa orang yang saweran uang RP 10.000 dan Rp. 20.000 tapi kehebohan berebut dan guyuran air yang sesekali menimpa penonton acara hiburan tersebut, membuat anak-anak merasa puas. Dapat lemparan sebuah mie instan saja akan menjadi cerita tersendiri bagi anak begitu sampai di rumah. Nongkrong paling depan di acara “dangdutan” dapat saweran air dan uang bukan tujuan utama, yang lebih penting dari itu adalah berbahagia bersama anak dan keluarga merayakan hari kemerdekaan.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-72