Uncategorized

Gara-Gara Rumor Tetangga

Udah dua hari ini teh Acha sakit,  sudah di bawa ke dokter tapi sakitnya masih saja?  Dia jadi males latihan tari seperti biasanya,  padahal dia paling seneng kalo disuruh latihan,  cepet mandi dan ganti baju sendiri.

Kemaren sore dia banyak bertanya,  semua pertanyaannya aku jawab sesuai dengan kapasitasnya yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD) kelas Satu.

Dia anak yang cerdas,  diusianya yang baru lima tahun dia sudah pandai membaca dan menulis,  kecerdasannya di atas rata-rata dan aku memasukan ke SD diusia 6 tahun seperti  kakaknya dengan alasan supaya dapat menyeimbangkan kecerdasannya.  Dia akan lebih berkembang jika disatukan dengan orang yang memiliki kemampuan sama tetapi jika mundur,  atau bersama yang belum bisa baca tulis maka dia akan jadi rangking satu tapi kemampuannya tidak berkembang karena tidak ada tantangan.

Dia menyelesaikan pelajaran tanpa keluhan bahkan cenderung ceria dengan peernya. Tapi betapa terkejutnya mendengar pernyataannya kali ini,  dia bilang ga mau latihan,  kenapa? Biasanya kalo anak merasa malas pasti di komunitasnya merasa tidak nyaman.

Aku mencoba menelisik mengapa dia berkata seperti itu. Lalu dia juga bilang:” Ga mau ke kelas empat (4) SD…”. Lho kenapa?  Ntar mau terus di kelas 3?

Tetehnya aja yang masuk SD 6 tahun bisa menyelesaikan SD dengan baik-baik saja bahkan cenderung pinter padahal dulu waktu masuk dia belum bisa baca seperti adenya ini.  Ah… Orang emang suka aneh-aneh,  terlalu khawatir dan berprasangka buruk dan itu dibuat sebuah image yang ditekankan pada teh Acha. Bukan sombong ya.. Lha aku saja yang masuk SD usia 5(lima) tahun… bisa tamat hingga pasca sarjana (S-2). Terus mereka bilang:”kurikulumnya beda lho”. Emang situ guru,  aku aja yang guru ga khawatir dengan kurikulum.

Kurikulum itu dah disesuaikan dengan kondisi zaman, dulu kurikulumnya gampang karena makan bakso aja cuma setahun sekali…. Sekarang makan bakso tiap hari aja bisa. “Pelajarannya susah.. Anak SD kelas 4 sudah ga bisa kita.. ” begitu kata sebagian besar orang tua.

Heloww bu ibu.. Maaf ya,  ibu kan cuma lulusan SD,  jadi jika ga mampu menyelesaikan peer anaknya pelajaran bahasa Inggris itu bukan salah kurikulum atau kurikulumnya yang susah dan berat lho. Lantas… Keluhan ibu itu jangan ditularkan hingga bikin “statement” negatif gitu. Lucu ya mereka itu, hingga bikin seram kalo kelas 4 SD pelajarannya sangat berat.

“Saya ga mau kelas 4..”

“kenapa? ” tapi teh Acha ga jawab. Aku dah tahu arahnya kemana pernyataan itu. “terus kalo dari kelas 3 teteh mau kemana?  Kan ke kelas 4..masa langsung loncat ke kelas 5…” hehe

“pindah sekolah aja… ”

“di sekolah lain juga ada kelas 4 nya… ”

“kalo loncat ke kelas 5 bisa kan? ”

Aduh sayang,  di daerah kita ga ada sekolah Akselerasi… Hehe tambah ketauan nih kalo anak ini cerdas.

Kali ini aku cuma bilang sama teh Acha: ” Teh Acha itu lebih pinter,  makanya masuk SD nya duluan,  teteh bisa menyelesaikan pelajaran dengan baik, jangan dengerin omongan mereka ya.. Ibu sama Teh Ula aja bisa nyelesaikan sekolahnya. ”

Buat para ibu yang suka bikin rumor akibat hoax di medsos….kelemahan kita bukan warisan dan jangan diwariskan,  berikan semangat buat anak-anak bukan malah membuat anak jadi pesimis. Ini bukan zaman nulis dalam sabak tapi sudah era globalisasi, belajar sudah bisa dimana saja dan menggunakan buku digital. Sebagai orang tua,  kitalah yang harus menyesuaikan dengan zaman,  bukan anak kita yang ditarik ke zaman kita dulu.

***********

#aititin1234 #refleksisosialisasi #aititin.gurisiana.id #NulisRandom2017 #1minggu1cerita

 

 

 

Uncategorized

Asa Yang Tertunda

Asa itu..

Membuahkan rasa yang bergelora

Menjadikan gelombang terhempas ke dinding clift pantai curam

Hanya satu

Asa itu akan tetap ada seperti asin air laut yang takkan pernah mencampuri agar-agar

Asa itu…

Tetap melayang bak camar melintas benua

Menari… Menjerit sesekali menabrakkan tubuhnya pada riak Samudera.

Dan Asa

Tetaplah membuahkan hasil

******

#1minggu1cerita

 

 

 

 

Uncategorized

Istri Berhutang Suami Ongkang-Ongkang

Ups… Maaf nih,  buat para suami,  judulnya agak bikin risih gitu tapi ini sisi lain realita kehidupan yang terjadi pada masyarakat kita.

Dalam prahara hutang seorang istri, terdapat sikap apatis suami,  mau tahu mengapa demikian?

Sebagian besar istri adalah sosok perempuan yang amat cinta sama keluarga, sebelum atau sesudah menikah sikapnya tetap sama,  dia tak rela melihat orang yang dicintainya merasa kesusahan apalagi menderita.

Banyak kasus kekerasan rumah tangga bahkan perceraian didasari oleh masalah hutang ini. Seorang istri berhutang kesana kemari demi memenuhi kebutuhan yang tak mampu dipenuhi oleh suaminya atau tak tega bilang “tidak ada” ketika suaminya bilang:”buatkan kopi… “, “beli rokok” atau “hari ini,  menu makannya apa? ” Padahal uang belanjanya sudah menipis bahkan habis.

Suami jangan pernah menyepelekan urusan belanja harian dan jajan anak-anak,  kelihatannya memang enteng,  sekali jajan cuma seribu atau duaribu tapi jika dikalikan jumlah anak,  kali jumlah berapa kali jajan dalam satu hari bukan mustahil hasilnya lebih bengkak dari jumlah yang diterima dari suaminya dalam satu hari, belum beli beras dan lauk pauknya. Suami harus bisa menghitung berapa uang yang diberikan dan berapa pengeluaran istrinya setiap hari.

Suami yang mampu mengontrol manajemen keuangan istrinya juga sangat dibutuhkan,  kadangkala istri kebablasan dalam pengeluaran karena ingin menyenangkan anak-anak, mempercantik rumah atau menambah jumlah peralatan rumah tangganya.

Istri yang begini akan tersangkut hutang kesana kemari dan akhirnya jadi bumerang bagi suami.  Banyak yang nagih dan diomongin tetangga itu menjadi resiko sebuah rumah tangga yang dililit hutang.  Mending kalau istrinya memiliki penghasilan tetap,  kalau cuma mengandalkan uang yang diberikan sama suami?  Kan repot.

Istri adalah sosok “tegar ” (diambil dari istilah prokem Sunda :teu gableg kaera) artinya dia tidak akan pernah malu untuk pinjam sana,  pinjam sini hanya untuk beli beras,  jajan anak atau memenuhi kebutuhan lainya.  Beda dengan suami yang lebih mengutamakan gengsi, seorang istri rela kelayapan di pagi buta jika dia butuh uang untuk bekal sekolah anaknya.

Kadangkala suami tak mau tahu untuk urusan-urusan hutang kecil-kecilan itu.  Suami tahunya sudah memberikan uang dan harus cukup. Tidak pernah peduli ada hajatan,  tetangga yang sakit/melahirkan yang semuanya itu harus pake “karcis” atau uang.

Istri juga harus bisa mengukur berapa penghasilan  yang diberikan oleh suaminya. Istri yang memiliki gaya hidup royal dan tidak pernah mempertimbangkan pemasukan adalah cikal bakal terjadinya hutang ini.

Nah… Kesimpulannya,

– Bagi Suami:

Berikan nafkah sama istri,  nafkah itu bukan hanya kewajiban memberi uang untuk kebutuhan pokok saja tetapi juga ditambah dengan uang untuk menyenangkan anak istri sekemampuan suami.

– Buat istri:

Perhitungkan penghasilan suami,  jangan membelanjakan uang secara berlebihan,  bedakan antara keinginan dengan kebutuhan, kontrol keinginan sesuaikan dengan keuangan suami

Dan semua itu butuh komunikasi aktif antara suami istri,  kejujuran dalam pengeluaran sangat dibutuhkan oleh keduabelah pihak termasuk kepada siapa saja punya hutang (kecuali jika hutang itu bisa dipenuhi oleh istri dan bukan digunakan untuk tujuan yang tidak baik).  Misalnya istri ingin beli bedak dan itu tak ada anggaran dari suaminya (seharusnya ada yaaa) maka istri tersebut berhutang tapi hutangnya tak besar ya dan tidak menghabiskan uang belanja pastinya. Yang bikin repot itu adalah istri yang diam-diam punya hutang apalagi sama rentenir tanpa sepengetahuan suami,  walau tujuannya baik memang tapi dijamin,  disitulah pangkal pertentangan dalam rumah tangga bahkan berujung perceraian.  Naudzubillahi Min Dzalik. Semoga keluarga kita tetap menjadi keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah. Aamiin.

******

#refleksiramadhan #aititin1234 #aititin.gurusiana.id #keephappy #NulisRandom2017

 

 

Uncategorized

Gara-Gara Mahluk Yang Namanya Diskon

Kejadiannya terus berulang setiap bulan dan tahun,  terutama menjelang lebaran, setiap orang pasti berburu diskon.

Sebenarnya aku sudah faham betul pengertiannya secara umum,  yaitu menaikan harga setinggi-tingginya lalu melakukan pemotongan 20%, 30+50% bahkan 70% sehingga seolah-olah harganya murah.

Padahal sih… Siapa yang mau rugi?  Mana ada perusahaan yang notabene bisnis besar merugikan perusahaannya sendiri?  Kita aja yang terpana oleh tipuan diskon tersebut.

Tapi… Lagi-lagi mall dan supermarket yang dihiasi iming-iming diskon itu berjubelan pengunjungnya.

Kalo dilihat-lihat barangnya… Barang diskonan itu yaaa begitu-begitu aja,  tak jauh dari pengertian barang sisa atau barang yang ga kejual beberapa bulan walaupun ada juga yang agak bagusan.

Bapak/ibu jangan ketipu sama diskon ya… Dibawah ini ada beberapa tips supaya kita tidak melakukan tindak konsumerisme gara-gara si diskon ini:

1. Pastikan dari rumah,  apa yang mau dibeli,  kalau perlu catat daftar belanjaan sehingga ketika pergi ke pasar,  mall atau supermarket tidak lirik kanan lirik kiri, apalagi tergiur diskon.

2. Walau akhirnya kita membutuhkan barang yang kena diskon tersebut. Teliti dengan cermat kualitas barangnya sesuaikan dengan harganya,  pantas tidak barang tersebut dilabeli harga itu.

3. Kalau ada waktu luang,  sebelum belanja,  survai dulu ke beberapa tempat untuk membandingkan harga atau bisa berdasarkan pengalaman teman atau tetangga bahkan pengalaman kita tahun sebelumnya.

4. Jangan terpancing dengan diskon dalam struk pembayaran karena kita akan terus dan terus belanja tanpa memperdulikan harga.  Sekiranya tidak penting untuk di beli maka tak usah di gunakan diskon dalam struk tersebut.

5. Kalo sekiranya kita sudah selesai belanja dan memiliki banyak diskon dalam struk, berikan saja struk tersebut sama siapa saja orang yang baru masuk ke mall tersebut. Selain beramal hal ini juga akan menekan keinginan anda untuk terus belanja

6. Belanjanya jangan mepet ke hari-hari akhir menjelang lebaran karena kita akan terjebak dengan harga yang mahal sementara barangnya kurang sesuai baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Itu beberapa tips yang bisa anda lakukan ketika terperangkap dengan diskon untuk menghindari konsumerisme. Selamat berbelanja kebutuhan lebaran ya…..******

#aititin1234 #NulisRandom2017 #aititin.gurusiana.id #1 minggu 1cerita

Uncategorized

Bi Inah dan Dua figur

Biasanya bi Inah shalat di rumah,  kalau bulan Ramadhan bi Inah harus jamaah di masjid. Mengikuti shalat tarawih,  tadarus dan i’tikaf.

Waktu bi Inah masih gadis (sempet jadi gadis juga ya bi Inah… Heeee) shalat di Masjid deket rumahnya, sekarang setelah menikah dan punya anak,  bi Inah ikut suaminya,  shalat di mushola terdekat,  karena ke masjid yang dulu butuh waktu yang lama untuk berjalan.  Mushola deket rumah juga digunakan sebagai tempat berjamaah dan banyak jamaahnya.

Yang berkecamuk dalam pikiran bi Inah adalah dua figur yang berbeda,  figur bu “Mawar” dan bu “Melati”.

Bu Mawar dan bu Melati di masjidnya terkenal sebagai sosok ibu yang menjadi tokoh,  dua-duanya baik hati dan tidak sombong, rajin menabung,  hemat tapi suka sedekah.

Para jamaah,  berdatangan satu persatu. Kalo para lelaki datang ke masjid selalu mengikuti aturan jamaah yang sesungguhnya,  datang terlambat pasti masbuq. Shalat mereka selalu berjamaah, baik remaja maupun orangtua tapi kalo perempuan masuk masjid atau mushola. Kenapa shalatnya lebih suka munfarid yaaa? Walau ga sedikit ada juga yang suka jamaah. Ini sih cuma riset bi Inah sekitar keluarga dan orang di sekitarnya aja. Mudah-mudahan hipotesis bi Inah salah heheee

Eh… Kembali ke bu Mawar dan bu Melati. Bi Inah juga suka bingung… Kenapa 2 orang ini begitu kontroversi?

Bu Mawar tegas dalam aturan jamaah, semua shaf harus diisi penuh,  yang belakang maju dulu ke depan,  yang datang duluan harus di depan.  Tapi bu Melati lain….

Seperti biasa bi Inah datang ke mushola, di shaf depan ada ruang kosong,  kurang lebih cukup untuk tiga sajadah lagi. Bi Inah mengisi salah satunya tapi yang dua lagi tak ada yang mengisi? Kenapa?  Bi Inah nyuruh seorang anak maju ke depan, ga mau.  Yang lain juga pada ga mau.

Ternyata mereka semua segan sama bu Melati,  jika mereka mengisi shaf depan, bu Melati suka judes dan marah-marah karena jadi penuh dan gerah… Kata nya sih begitu…

Bu melati… Bu melati. Kalo bi Inah lagi haid,  shaf depan kosong berhari-hari karena yang lain ga mau ngisi. Andai semua orang memiliki pemikiran seperti bu Mawar… Apalah arti bi Inah,  cuma bisa berandai-andai saja hee

********

#aititin1234 #aititin.gurusiana.id #NulisRandom2017 #1 minggu 1 cerita

 

 

 

Uncategorized

Bi inah ikut jamaah

Jamaah itu biasanya identik dengan shalat,  ya shalat berjamaah seperti yang dilakukan bi Inah di mushola kampungnya malam itu untuk melakukan shalat tarawih.

Karena sudah adzan bi Inah bergegas menuju mushola,  walau sudah tergesa-gesa bi Inah tetep harus “masbuk ” karena terlambat cuci kaki di teras mushola.

Rakaat demi rakaat dilalui tapi begitu tiba di rakaat ganjil berikutnya,  imamnya malah “duduk attahiyat”, bi Inah heran tapi tak sempat menepuk tangannya, imam sudah mengakhiri dengan salam.

Jamaah laki-laki juga kelihatannya galau,  karena ada yang duduk, ada juga yang berdiri tapi tak ada satu pun yang mengucapkan “subhanalloh” sebagai peringatan kepada imam kalau dia sedang keliru dengan bilangan rakaatnya.

Ahhh bi Inah dan beberapa jamaah mengeluhkan kejadian tadi?  Kenapa dia tidak menepuk tangan di lengannya?  Kenapa jemaah lelaki juga tak membuka mulut malah terduduk dalam kegalauan ada apa dengan jamaah ini? Malah ada salah satu yang bilang,  “biarin aja,  ada diskon… ” Astagfirullah… Bi Inah cuma ngurut dada.

Begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat,  bi Inah yang cuma lulusan SD di kampung hanya mampu terima nasib ketika dalam bermasyarakat, pemimpinnya melakukan kesalahan,  semua rakyatnya tetep patuh pada pemimpin tersebut.

Menurut bi Inah (yang merasa bodoh), harusnya rakyat itu mengingatkan pemimpinnya dengan aturan yang sudah ditetapkan. Gini-gini juga bi Inah pernah mesantren (walau mesantren kilat doang) tapi cukup ngerti kalau dalam aturan berjamaah.

Orang yang datang lebih dulu harus menempati posisi paling depan tak peduli jabatannya,  kekayaannya ataupun statusnya.  Yang pasti laki-laki dan perempuan memiliki shaf yang berbeda.  Dalam bermasyarakat ini bisa diartikan kalau semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama di mata hukum,  tak peduli dia pejabat atau siapapun,  ketika salah… Ya harus dihukum hehehe

Barisnya orang berjamaah harus rapat,  tidak menyisakan ruang bagi syaitan untuk menggoda,  dan dalam bermasyarakat juga kita harus membuat barisan pertahanan yang kuat menghadapi ancaman,  hambatan, rongrongan dan gangguan baik dari dalam maupun dari luar negara kita.

Imam dipilih dari laki-laki yang bagus bacaannya sehingga orang lain mengerti dan faham apa yang dikatakannya.  Seorang pemimpin yang bahasanya kurang bagus atau kurang dimengerti hanya akan menimbulkan kesalahfahaman dan hilangnya konsentrasi.

“coba kalau semua jamaah waktu itu konsentrasi” umpat bi Inah dalam hati. Konsentrasi dengan jumlah rakaat yang seharusnya,  masyarakat konsentrasi juga dengan tujuan pembangunan Nasional sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, kalo difahami butirnya satu persatu (seperti yang di viralkan di media sosial),  dan dilaksanakan maka pasti akan terwujud tujuan,  visi dan missi bernegara tersebut… Hiii sok tau ya bi Inah.

Kejadian itu jua tak kan terjadi andai jamaah mengingatkan imam yang keliru,  karena malam sebelumnya juga imam pernah keliru terus ma’mumnya mengingatkan,  imam kembali ke aturan yang seharusnya jadi mengapa jika ada pemimpin yang salah harusnya ada yang mengingatkan yaaa.

Mudah-mudahan kejadian ini hanya terjadi waktu bi Inah ikut jamaah saja ya. Andai kehidupan bernegara mengikuti aturan seperti halnya aturan berjamaah yang sesungguhnya sesuai kaidah dan ketentuan maka pasti masyarakat akan aman dan tujuan bernegara akan tercapai,  menjadikan masyarakat yang sejahtera lahir batin.  Aamiin.

******

#NulisRandom2017

#aititin1234

 

cerita harianku

Mencari Nafkah

Secara bahasa النفقة   (nafkah) artinya sesuatu yang dibelanjakan sehingga habis tidak tersisa.Sedangkan secara istilah syari’at artinya; mencukupi kebutuhan siapapun yang ditanggungnya, baik berupa makanan, minuman pakaian, atau tempat tinggal.

Banyak cara mencari nafkah sesuai dengan keahlian dan pekerjaannya dan hari ini saya berpapasan dengan ibu-ibu yang mendorong rodanya berisikan aneka sayur mayur dan kebutuhan lainnya. Ibu itu sedang mencari nafkah untuk keluarganya, membesarkan anak-anaknya yang masih berusia kecil setelah ditinggalkan oleh suaminya. Saya tidak mau tahu apa alasan suaminya meninggalkannya

Hari ini,  ibu itu kembali berpapasan dengan saya,  rodanya penuh berisi jualan bahan makanan pokok.

“Betapa enaknya jadi guru ya Neng” dia berucap dan aku cuma tersenyum

“Memakai baju bersih,  dandan cantik,  gaji tiap bulan. …” dia mengelus tanganku

“Kalo bibi… Harus bangun jam tiga,  ke pasar kotor-kotoran,  jalan muter keliling kampung menjajakan dagangan,  mending kalau semuanya laku… Kalo enggak?  Ya jadi sampah lah makanan atau sayuran mah”

Sekelumit masalah bibi juga meluncur begitu saja dari mulutnya. Ah bibi.. Bibi… Semua orang hidup dengan takdirnya, ada yang mau merubahnya dengan kerja keras dan ketekunan tapi ada juga yang pasrah dengan keadaan.

Sumber : https://id-id.facebook.com/notes/keluarga-sakinah-mawadah-warohmah-amanah-smwa/fiqih-nafkah-memahami-kewajiban-memberi-nafkah-dalam-islam/10151565071556562/

#aititin1234

cerita harianku

Munggahan di Negri Orang

Foto Ai Titin.          Entah siapa dan dimana memulai tradisi munggahan tetapi gebyar acara munggahan menjadi sebuah acara semi resmi yang selalu dilakukan oleh beberapa orang bahkan beberapa instansi. Ketika mau bepergian ke suatu tempat , terutama tempat-tempat rekreasi dan rumah makan/restoran di wilayah Jawa Barat ketika masa munggahan (kurang lebih 2-3 hari menjelang hari H puasa) pasti menemukan keramaian yang luar biasa,  jalanan menjadi macet dan tempat makan/rekreasi dipenuhi oleh orang-orang yang makan bersama.

H-2 sebelum ramadhan tahun ini, saya masih ada di sebuah kota di Jawa Tengah, Yogyakarta….kota budaya dan kota pendidikan yang memiliki topografi datar. Di sana banyak sekali objek wisata yang menjadi destinasi  dengan berbagai penawaran yang memikat pengunjung. Berangkat setelah subuh sampai di Malioboro pkl 16.00 WIB, jalanan begitu macet bukan dipenuhi oleh orang yang munggahan tetapi para wisatawan (pelajar yang study tour). Anak-anak usia SD, SMP hingga SMA memenuhi jalanan dan pertokoan. Kawasan ini memang merupakan salah satu wilayah terpadat, tempat berbelanja yang murah tapi memiliki variasi pilihan yang banyak disukai pengunjung.

Hari berikutnya, saya berkunjung ke Pantai Parangtritis, pantai yang memiliki gelora ombak yang sangat dahsyat tetapi pengunjungnya hanya beberapa orang saja, tak seru rasanya jika hanya ada dua atau tiga kelompok saja yang foto-foto dan bersantai disana. Setelah membeli ikan kakap putih dan ikan lainnya sesuai dengan selera masing-masing, kami menjumpai beberapa wilayah yang kena abrasi semalam. Area yang seharusnya jadi tempat makan-makan luluh lantah dalam sekejap. Hal ini tidak begitu berpengaruh karena jarang sekali orang yang melakukan “munggahan” di sana. Kalau liburan sekolah, tahun baru atau lebaran, baru ada pengunjung, begitu keterangan pemilik warung tersebut. Udara yang bertiup kencang dan panas yang memanggang kulit membuat kami sekeluarga segera bergegas meninggalkan pantai setelah mengambil foto terlebih dahulu.

Begitu sampai di sekitar wilayah Turi, suasana adem dan sepinya kebun salak menyambut kami, rasa lelah terobati dengan rangkaian buah salak manis dan besar-besar. Anak-anak sibuk mengambilnya sambil meringis karena tergores oleh duri kecilnya. Makan beberapa buah salak itu membuat anak-anak suka ria. Beberapa orang tua sibuk bertanya-tanya tentang tata cara memelihara dan mengembangkan salak pondoh asli ini. Hingga magrib menjelang, semua masih sibuk di kebun salak, ada yang memetik lalu mencicipi langsung dari pohonnya, ada juga yang membeli beberapa kilo untuk oleh-oleh.

Setelah keliling di Malioboro lagi,menghabiskan kepenasaranan anak-anak kami star pukul 21.00 WIB menuju kota tercinta: Tasikmalaya. Jalanan begitu sepi, hanya ada beberapa truk besar dan bis yang sesekali disalip, berbeda dengan status temanku di media sosial yang tinggal di wilayah Jabodetabek dan Bandung, wilayah Jawa Barat dimacetkan oleh orang-orang yang (mungkin) melakukan munggahan.

Kantuk tak tertahan ketika waktu menunjukan pkl 00.30 WIB, kami mencari beberapa alamat hotel atau losmen yang ada di sekitar perjalanan melalui akun handphone. Ada beberapa losmen yang kami dapatkan informasinya, tetapi semua dalam keadaan gelap dan tertutup. Mereka mungkin sudah tidak menerima tamu di atas jam malam hingga akhirnya dengan menahan kantuk, sempat saya berinisiatif untuk nginep di mesjid saja tetapi kami juga mengkhawatirkan keadaan cuaca dan nyamuk jika harus tidur di area terbuka. Akhirnya pukul 01.00 WIB kami sampai di sebuah hotel yang masih buka. Setelah transaksi dan meninggalkan KTP sebagai persyaratan, kami sekeluarga menginap, menyelesaikan kantuk, merebahkan badan yang begitu lelah dan menikmati munggahan di negri orang.***

Banyumas, 25 Mei 2017

 

 

cerita harianku

Munggahan Sebagai Sebuah Tradisi

Bagi masyarakat yang tinggal di Jawa Barat, pasti mengenal istilah ini, “munggahan” adalah makan bersama di siang hari atau malam dengan teman, keluarga atau kerabat menjelang hari pertama puasa Ramadhan. Munggahan bisa dilakukan bersama keluarga atau rekan kerja bahkan bisa mengikuti beberapa kelompok, jadi munggahan (makannya) bisa berkali-kali dengan komunitas yang berbeda-beda.

Pelaksanaan munggahan dilakukan pada H-5 hingga H-1 (sebelum puasa Ramadhan), acara makan-makan secara bersama-sama ini biasanya direncanakan dengan angaran yang disiapkan.

Memang munggahan tidak seheboh “ngabuburit” yang sudah populer lebih dulu. Ngabuburit dilakukan tiap hari bahkan sudah bukan lagi menjadi tradisi masyarakat Sunda tetapi sudah menjadi budaya nasional. Bahkan menurut Idris Apandi (Menyingkap Sisi Lain Tradisi Ngabuburit ) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan kalau ngabuburit adalah menunggu adzan Maghrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadhan. Jadi, ngabuburit dilakukan oleh bangsa Indonesia secara umum bukan lagi monopoli masyarakat Sunda. Bagaimana dengan “Munggahan?” akankan tradisi ini menjadi budaya nasional juga? Wallohu alam, tergantung dari seberapa konsisten dan konvensionalnya acara tersebut.

Munggahan dilakukan oleh masyarakat Sunda yang tinggal di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya, hal ini terlihat dari sibuknya kendaraan umum pada saat munggahan. Banyak masyarakat yang berbelanja kebutuhan pokok ke pasar di luar kebiasaannya, mereka juga memenuhi tempat-tempat makan/restoran, tempat pariwisata hingga menimbulkan kemacetan. Fenomena ini tidak terlihat di kota lainnya, jalanan tetap lenggang, tempat makan dan rekreasi tidak menunjukan perbedaan yang signifikan bahkan cenderung sepi.

Masyarakat Sunda yang hobby makan bakso, pada saat munggahan memenuhi tempat-tempat  berjualan bakso, padat pengunjung hingga harus antri menunggu giliran. Seperti yang tak kan ketemu lagi dengan penjual bakso padahal mereka juga tetap membelinya pada malam hari setelah shalat tarawih pada bulan Ramadhan. Tapi disitulah seninya, kita lihat sisi positifnya saja yaitu silaturahmi dengan keluarga, teman atau kerabat menjelang Ramadhan tiba dengan makan bersama.

Munggahan dilakukan juga oleh instansi pemerintahan atau masyarakat umum secara bersama-sama. Gambar di bawah menunjukan tradisi makan bersama yang dilakukan oleh masyarakat menjelang ramadhan tiba.

Hasil gambar untuk gambar orang makan bersama
Foto: http://trivia.id/post/ramadan-sebentar-lagi-inilah-tradisi-sebelum-puasa-di-indonesia-kamu

Munggahan bukan suatu keharusan apalagi kewajiban, tanpa munggahan puasa akan tetap berjalan sesuai jadwalnya. Dengan atau tanpa munggahan, puasa harus dilakukan oleh muslim/muslimah walaupun ada beberapa orang yang selalu rutin setiap tahun menyelenggarakan acara munggahan baik dengan keluarga atau dengan teman. Tidak ada  munggahan dalam Islam tetapi sebagai sesama muslim memiliki kewajiban bersilaturahmi sebagai bentuk hubungan baik dengan teman atau keluarga. Dan silaturahmi itu tidak harus makan bersama, jika punya uang dan waktu maka bisa saja acara munggahan itu dilakukan.***

 

 

cerita harianku

SENANGNYA JADI GURU

Siapa sih yang ga senang jadi guru? Guru adalah sosok yang menjadi panutan bagi anak didiknya, dimanapun dia berada. Guru juga merupakan figur di masyarakat yang memiliki nilai positif dan multi talent.

Dari kecil memang cita-cita jadi guru tidak muncul, tetapi bakat menjadi guru sudah nampak pada anak-anak, mereka meniru gurunya waktu mengajar di kelas begitu anak-anak sampai di rumah. Entah itu cara berpakaian, logat bicaranya atau apapun yang bisa ditiru. Walaupun ada juga anak yang punya cita-cita menjadi guru hanya melihat tetangganya atau orang tua sendiri seorang guru, ada juga anak guru yang enggan menjadi guru.

Guru memiliki beban mengajar dan mendidik anak orang lain di sekolah dan di rumah sebagai bagian dari keluarga yang harus menghilangkan atribut guru itu sendiri. Jika di sekolah guru memiliki kewajiban mendisiplinkan anak, membuat anak menjadi nurut dengan ucapannya, memberi nilai secara objektif, di rumah semua itu sulit untuk diterapkan dengan seobjektif mungkin.

Anak sendiri kadang menjadi bumerang bagi seorang guru, coba lihat tulisan saya dengan judul: Ga Mau Punya Ibu , adalah contoh betapa menjadi seorang guru (bagi ibu guru) adalah kesiapan membagi waktu antara tugas mengajar dan kewajiban mendidik keluarga. Disini butuh kesiapan mental yang luar biasa, penggunaan bahasa yang berbeda antara anak didik dengan anak sendiri.

Jika kita memberi nasihat, perintah, tugas atau apapun itu pada anak didik, mereka akan nurut dengan asumsi bahwa mereka takut tidak memiliki nilai tetapi pada anak sendiri? betapa susahnya makanya anak kita serahkan pendidikannya kepada guru juga. harapan orang tua yang guru maupun yang bukan guru adalah sama yaitu mendidik anak-anak menjadi anak yang sholeh/sholehah, taat beragama, taat sama orangtua dan berguna bagi bangsa dan negara. Klasik memang tetapi itu adalah harapan semua orang tua.

Dan betapa terkejutnya siang ini, saya mendapatkan tulisan anak saya yang dia tempel di dinding kamarnya bahwa: cita-cita Marsya jadi Guru

Entah siapa yang menginspirasinya, yang pasti ada rasa senang dalam hati yang paling dalam bahwa ibunya yang selalu dirindukan setiap saat, yang diharapkan jadi mamah saja dan tidak menjadi ibu guru tetapi pekerjaannya kini dicita-citakan. Senangnya jadi Guru lebih terasa ketika anak didiknya terlihat bahagia dan menggapai cita-cita mereka hingga sukses.***